Perjuangan Tanpa Batas: Kisah Guru-guru di Pelosok yang Rela Habiskan Gaji untuk Ongkos Mengajar

Setiap pagi, saat banyak orang baru memulai hari dengan santai, suara mesin perahu sudah akrab di telinga Rabiyatul Dwi Andita. Perahu itu bukan alat rekreasi, melainkan "bus sekolah" bagi dirinya dan delapan guru lainnya di SDN 6 Mentaya Seberang. Hujan deras atau terik matahari tak pernah jadi alasan untuk libur. Mereka tetap menyeberangi Sungai Mentaya, demi tugas mulia: mencerdaskan anak-anak bangsa di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kotim.

Perjuangan Tanpa Batas: Kisah Guru-guru di Pelosok yang Rela Habiskan Gaji untuk Ongkos Mengajar

Perjalanan mereka setiap hari dimulai pukul 6 pagi dan memakan waktu sekitar satu jam. Sebuah video yang merekam perjuangan mereka saat melawan derasnya arus sungai dan hujan badai sempat viral, membuat banyak orang tersentuh dan kagum.

Bagi Dita, sapaan akrab Rabiyatul, profesi guru honorer bukan jalan yang mudah. Gajinya hanya Rp500 ribu sebulan, dan sebagian besar, sekitar Rp300 ribu, habis untuk biaya menyeberang sungai. Alhasil, uang saku pribadi yang tersisa hanya Rp200 ribu. "Kadang kepala sekolah yang bantu dulu, tapi sisanya tetap kami tanggung sendiri," ungkap Dita.

Meski berat, mahasiswi semester tiga jurusan PGSD ini tak pernah menyerah. Kecintaannya pada pendidikan jauh lebih besar dari beban yang dipikul. Terutama, saat melihat banyak murid yang butuh bimbingan ekstra, seperti belajar membaca dan menulis. "Harapannya, ada perhatian lebih untuk guru-guru di pelosok. Supaya perjuangan kami tidak habis hanya untuk ongkos," tambah Dita.

SDN 6 Mentaya Seberang punya sembilan pengajar, satu di antaranya PNS, lima PPPK, dan tiga honorer, termasuk Dita. Bahkan, dua guru honorer lain sedang hamil, tapi mereka tetap setia menyeberangi sungai setiap hari. Semangat mereka tak pernah padam. "Melihat anak-anak belajar dan paham apa yang kita ajarkan, rasanya campur aduk antara bangga, haru, dan senang," tutur Dita.

Setiap hari, perjuangan mereka adalah maraton waktu dan medan yang sulit. Dari Kota Sampit, mereka naik mobil 30 menit, lalu lanjut naik perahu kecil sekitar 20 menit, dan terakhir jalan kaki 5 menit ke sekolah. Hujan dan angin kencang sering jadi tantangan, tapi mereka tetap maju dengan perlengkapan seadanya. "Kalau panas ya kepanasan, kalau hujan ya kehujanan. Perahunya kecil, tanpa atap. Tapi tetap kami jalani, karena ini sudah jadi tanggung jawab kami," kata Dita.

Kisah para guru di SDN 6 Mentaya Seberang adalah bukti nyata bahwa semangat pengabdian dan cinta terhadap pendidikan bisa mengalahkan segala rintangan. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Sebuah perjuangan yang lebih besar dari sekadar gaji.


Bagaimana menurutmu, apa yang bisa dilakukan untuk membantu guru-guru di daerah terpencil agar mereka tidak terbebani biaya transportasi?

Belum ada Komentar untuk "Perjuangan Tanpa Batas: Kisah Guru-guru di Pelosok yang Rela Habiskan Gaji untuk Ongkos Mengajar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel